DPC PDI Perjuangan Kota Banjar Gelar Pendidikan Politik dan Doa Bersama Peringati 30 Tahun Peristiwa Kudatuli
Senin, 27-07-2026 - 05:35:14 WIB
BANJAR – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Banjar menggelar kegiatan pendidikan politik, refleksi, doa bersama, serta pemutaran film dokumenter dalam rangka memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996), Minggu (26/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti kader struktural, badan sayap partai, serta sejumlah tokoh pemuda. Melalui pemutaran film dokumenter, peserta diajak mengenang sekaligus memahami peristiwa yang menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan demokrasi di Indonesia.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Banjar, Nana Suryana, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan politik bagi kader sesuai instruksi DPP PDI Perjuangan agar sejarah perjuangan demokrasi tidak dilupakan.
"Melalui kegiatan ini kami mengajak kader struktural, badan sayap, dan tokoh-tokoh pemuda untuk menyaksikan film dokumenter tentang Peristiwa 27 Juli 1996 agar memahami bahwa demokrasi yang kita rasakan saat ini hadir melalui perjuangan yang tidak mudah," ujar Nana.
Ia menjelaskan, istilah Kudatuli merupakan singkatan dari Kerusuhan 27 Juli 1996 yang saat itu menimpa PDI. Meski demikian, menurutnya, nilai perjuangan dalam peristiwa tersebut tidak hanya menjadi milik PDI Perjuangan, tetapi merupakan pelajaran demokrasi bagi seluruh rakyat Indonesia.
"Peristiwanya memang menimpa PDI Perjuangan, tetapi pelajaran politik dan demokrasinya bukan hanya untuk PDI Perjuangan. Saat itu ada upaya mempertahankan kedaulatan partai dan hak berdemokrasi sebagai warga negara, sehingga lahirlah peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Kudatuli," katanya.
Nana menambahkan, peringatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengingatkan kader agar memahami makna besar di balik Peristiwa 27 Juli 1996, bukan sekadar mengenal nama atau tanggal kejadiannya.
"Harapan kami kader-kader di Kota Banjar memahami bahwa Kudatuli bukan hanya sebuah istilah dan Kerusuhan 27 Juli bukan hanya sebuah peristiwa. Di dalamnya ada makna besar tentang perjuangan melawan upaya pembungkaman demokrasi dan mempertahankan hak-hak demokrasi," ungkapnya.
Menurut Nana, semangat perjuangan demokrasi yang lahir dari Peristiwa 27 Juli 1996 harus terus diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari pendidikan politik.
"Minimal kader-kader dan masyarakat memahami bahwa salah satu tonggak perjuangan demokrasi di Indonesia lahir dari Peristiwa Kudatuli. Peristiwanya terjadi di PDI Perjuangan, tetapi pelajaran berharga tentang demokrasi dan politik adalah untuk seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya.
Komentar Anda :