Meski Ditolak Sebagian Pedagang, Pemkot Banjar Tetap Akan Lakukan Penataan Ulang Pasar Muktisari
Pemerintah Kota Banjar melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Dan Perdagangan ( KUKMP) akan tetap berencana merelokasi dan menata ulang kembali para pedagang yang berada di Pasar Muktisari Langensari Banjar.
Pasar Muktisari yang berada di perbatasan dengan bangunan yang bagus harus ditata dan benar-benar diisi oleh pedagang.
Saat ini jumlah pedagang yang mengisi pasar Muktisari ada sekitar 362 dengan rincian 262 berada di lantai bawah dan sisanya diharapkan mengisi di lantai dua.
Kepala Dinas KUKMP Kota Banjar Edi Herdianto saat dihubungi lewat telepon Jum'at ( 19/3/2021 ) mengatakan penertiban Pasar Muktisari tersebut sudah mulai jalan dan didukung oleh para pedagang.
" Saat ini pasar Muktisari masih bersifat pasar mingguan, dan kami berharap pasar tersebut menjadi pasar harian, " ujarnya.
Disinggung adanya penolakan dari sebagian pedagang yang enggan pindah ke lantai atas, Edi Herdianto menyanggah hal tersebut.
" Tidak ada penolakan, bahkan mereka mendukung bahwa mereka siap ditempatkan dimana saja, asal disiapkan tempatnya.
Justru dengan penataan pasar ini akan mengubah pasar menjadi lebih tertib,sehingga pasar tersebut tidak dikategorikan pasar yang kumuh dan tidak beraturan, " jelasnya.
Edi sendiri menambahkan akses jalan ke lantai atas sudah disediakan sehingga mempermudah para pedagang dan pembeli.
" Kita juga akan mencoba mengubah kembali sistem atau route pembeli yang akan masuk, agar seluruh pedagang bisa terlewati pembeli. Dan saya berharap semua pedagang bisa mengikuti apa yang diatur oleh pemerintah.Walaupun pindah tempat pelanggan akan mengikuti, " pungkasnya.
Rencana penataan Pasar Muktisari Langensari untuk mengisi kios di lantai atas mendapat penolakan dari sebagian pedagang, dikarenakan akses ke atas yang agak sulit, dan keengganan pembeli untuk naik ke atas.
Hal tersebut disampaikan oleh beberapa pedagang seperti ibu Wati pedagang daging ayam, mengatakan para pedagang yang di bawah tidak mau ke atas karena tidak ada pembeli.
" Hari senin kemarin sudah dicoba pedagang yang tidak punya kios di bawah, pindah ke lantai atas. Tapi baru sebentar sudah pindah lagi, karena jarangnya pembeli yang mau ke lantai atas, " ujarnya.
Sementara Ibu Catur mengatakan kondisi pasar Muktisari yang cukup besar dengan pedagang yang banyak sementara pembeli kurang, ikut mempengaruhi keengganan para pedagang untuk pindah ke lantai atas.
" Saya ikut pedagang yang menolak untuk penataan tempat pedagang ke lantai atas. Karena memang benar-benar tidak ada pembeli yang mau naik ke atas. Apalagi pedagang kecil, sementara bandar ada di lantai bawah otomatis pembeli memilih berbelanja di bawah, " ucapnya.
Ibu Khotimah merasa enggan pindah ke lantai atas, selain karena kurangnya pembeli yang mau naik ke lantai atas, juga menambah biaya untuk pengangkutan barang ke lantai atas.
" Biasanya kuli angkut mau dibayar Rp.20.000 sementara kalau naik ke atas bisa naik 2 kali lipat. Kecuali jalan menuju ke atas bisa dilalui mobil. Karena para pedagang di sini tidak menetap, artinya tiap hari melakukan bongkar muat barang. Untuk pasar Muktisari sendiri buka setiap hari Senin, Rabu dan Sabtu. Di hari lain pedagang berada di pasar lain seperti pasar Langkaplancar dan Pasar Cikawung, " ujarnya dengan panjang lebar.
Koordinator retribusi pasar Muktisari, Yoyo mengiyakan ada sebagian pedagang yang merasa keberatan untuk dipindah tempat dagangnya ke lantai atas.
" Sebetulnya secara lisan dan tulisan sudah disampaikan kepada para pedagang untuk segera menempati tempat di lantai atas. Tapi sampai saat ini belum berhasil menertibkan tempat para pedagang. Alasannya para pedagang merasa belum yakin akan ada pembeli naik ke lantai atas. Tapi secara pelan-pelan kami akan memberi pengertian kepada para pedagang untuk menempati tempat di lantai atas. Biar Pasar Muktisari bisa tertata lebih baik, "pungkasnya. (Lies)
Komentar Anda :