Seperti biasa, Minggu pagi Pon, Masjid Baitul Karim di Desa Waringinsari, kecamatan Langensari, Kota Banjar, selalu ramai oleh jamaah yang mengikuti pengajian. Jamaah yang berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor, mulai memadati halaman Masjid. Kondisi serupa juga terlihat di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Waringinsari yang berlokasi tepat di depan Masjid Baitul Karim. Jarak dua tempat ibadah ini, hanya dibatasi oleh ruas jalan kampung selebar 5 meter saja.
Hiruk pikuk warga di dua tempat ibadah yang berbeda itu, sudah terjadi selama puluhan tahun, tepatnya sejak tahun 1974 silam. Masjid Baitul Karim dan geraja GKJ Waringinsari yang saling berhadapan tersebut, berdiri megah dengan keimanan tanpa gesekan. Kaum muslim tidak segan untuk parkir sepeda motornya di halaman Gereja dan pengurus serta jemaah geraja pun melakukan hal serupa.
Wajah keberagaman agama ini, tertanam dan terpelihara lama oleh warga sekitar. Lantunan ayat suci Al-Quran yang biasanya terdengar ke seantero kampung melalui pengeras suara masjid, Minggu Pon ini, dimatikan sementara dan hanya menggunakan pengeras suara di dalam masjid. Lantunan ayat suci Al-Quran dan doa dari dalam gereja, saling mengalir merdu ke dalam sanubari penganutnya tanpa gangguan.
Saling menghargai dan membantu juga dilakukan oleh pengurus masjid dan gereja. Bila menjelang hari raya salah satu agama, kedua pengurus tempat ibadah itu saling membantu dan menjaga. Bahkan di masa pandemi Covid 19 ini, jamaah dari masjid dan gereja, saling memberi bantuan sembako bagi warga yang tengah menjalani isolasi mandiri di rumah.
Ruh Sutasoma dan semangat Sumpah Pemuda, bergentayangan di Waringinsari.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bermakna meskipun berbeda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap dalam satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menyatakan persatuan dan kesatuan Bangsa serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari keberagaman budaya, agama, ras, suku bangsa, dan kepercayaan. Kalimat Bhineka Tunggal Ika tertera pada karya sastra kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular di masa kerajaan Majapahit abad ke 14 silam. Terukir dalam ingatan bangsa Indonesia, salah satu pesan dalam kitab Sutasoma itu adalah saling menghormati dua agama yang berbeda yakni Budha dan Hindu.
Karya sastra Mpu Tantular, kemudian menjadi inspirasi indung lahirnya Sumpah
Pemuda. Sejarah mencatat Kongres pemuda II yang terdiri dari perwakilan pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamienten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon dan lainnya, mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu. Sumpah Pemuda yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yakni Indonesia.
Seiring perkembangan jaman, semangat dari Sumpah Pemuda dan ruh kitab Sutasoma tersebut mulai terkikis. Gejala intoleransi agama, ras, budaya dan kepercayaan perlahan naik ke permukaan disertai dengan munculnya radikalisme. Intoleransi kini mulai mengancam kebhinekaan. Kasus-kasus intoleransi di Indonesia pada umumnya didominasi oleh diskriminasi dan kekerasan bahkan ujaran kebencian.
Keberagaman agama di Waringinsari, Kota Banjar itu selayaknya bisa menjadi cermin bagi Bangsa Indonesia untuk menjaga keberagaman dan ruh Bhineka Tunggal Ika. Saling menghargai, menghormati dan saling membantu, menjadi kunci agar pintu Bhineka Tunggal Ika selalu terkunci rapat bagi mereka yang mencoba mengusir ruh Sutasoma dan semangat Sumpah Pemuda dari Ibu Pertiwi.
Komentar Anda :