Gagasan besar sering kali lahir dari keresahan yang sederhana.
Begitulah awal mula tercetusnya gerakan pemanfaatan pekarangan rumah yang digagas oleh Hilman Pikki, mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Darussalam (UID) Darussalam di Desa Pawindan, Kecamatan Ciamis. Jum'at (01/08/2025).
Ia mempertanyakan asumsi umum yang selama ini melekat dalam pikiran masyarakat, bahwa kemandirian pangan harus selalu bertumpu pada kepemilikan lahan yang luas.
“Yang kita perlukan sebenarnya bukan lahan luas, tapi cara berpikir yang luas. Lahan yang luas bisa dipecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Pekarangan rumah itu konkret dan bisa dimulai sekarang,” ujar Hilman.
yang kemudian menjadi penggagas utama gerakan ini, gagasan itu tak berdiri sendiri, Ia menemukan ruang kolaborasi yang kuat bersama Kampung KB Magot, yang selama ini dikenal aktif mengembangkan program pemberdayaan keluarga dan lingkungan sehat.
Dukungan konkret juga datang dari Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, yang turut menyumbangkan bibit tanaman dan memberikan pembinaan teknis kepada masyarakat.
Tak ketinggalan, sejumlah pemuda Desa Pawindan bergabung dalam gerakan ini, menjadi tulang punggung pelaksana di lapangan.
Program ini menyasar pengoptimalan lahan pekarangan yang selama ini dianggap tak produktif.
Melalui pelatihan pembuatan kompos, penanaman sayur organik, dan pemanfaatan sistem tanam vertikal atau polybag, masyarakat diajak untuk mandiri secara pangan sekaligus peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Namun, inovasi KKN UID Darussalam tidak berhenti di situ.
Sebagai bentuk perluasan dampak dan keberlanjutan program, Zam Zam, Wakil Ketua Tim KKN Desa Pawindan, mengembangkan sebuah aplikasi digital khusus untuk jual beli hasil tani lokal.
Aplikasi ini dirancang untuk menghubungkan langsung antara petani pekarangan dengan konsumen di lingkungan desa.
“Kita semua tahu bahwa isu kesehatan, terutama stunting, adalah masalah nasional, maka dari itu, gerakan pemanfaatan pekarangan rumah ini kami sinergikan dengan aplikasi digital yang menghubungkan kebutuhan pangan sehat dengan konsumen lokal. Ini bukan sekadar proyek pertanian, tapi integrasi antara semangat ekonomi dan semangat lingkungan,” jelas Zam Zam.
Melalui kombinasi antara aksi nyata di lapangan dan pemanfaatan teknologi, gerakan ini menjadi contoh bagaimana perubahan besar bisa dimulai dari desa, dari rumah sendiri.
Dengan dukungan berbagai pihak dan semangat kolaboratif, Desa Pawindan bergerak menjadi pionir dalam membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat, sekaligus menjawab tantangan lingkungan secara konkret dan berkelanjutan.
Komentar Anda :