Surat Cinta untuk Kampar: Pembangunan yang Bermula dari Hati Oleh: Dr. Hj. Misharti, S.Ag., M.Si.
Kamis, 05-02-2026 - 23:00:16 WIB
Kampar:(Wakil Bupati Kampar)
Pada usia ke-76 tahun, Kabupaten Kampar berada pada fase kematangan sebagai sebuah daerah. Di tengah berbagai capaian pembangunan dan perayaan hari jadi, penting bagi kita untuk sejenak melakukan refleksi: pembangunan seperti apa yang sejatinya ingin kita wujudkan.
Selama ini, kemajuan kerap diukur melalui indikator fisik—jalan yang mulus, jembatan yang kokoh, gedung yang menjulang. Indikator tersebut tentu penting dan tidak dapat diabaikan. Namun, pembangunan yang berkelanjutan tidak cukup jika hanya menyentuh aspek material. Pembangunan juga harus menyentuh sisi kemanusiaan, nilai, dan karakter masyarakat.
Bagi saya, jiwa Kampar hidup dalam keseharian warganya. Ia tampak pada aktivitas ibu-ibu di pasar tradisional, pada anak-anak yang menuntut ilmu agama di surau-surau desa, serta pada ketangguhan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang bertahan di tengah keterbatasan. Di sanalah pembangunan memperoleh makna sosialnya.
Pembangunan yang berangkat dari hati menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan. Dalam menjalankan amanah sebagai Wakil Bupati, saya memandang jabatan bukan semata sebagai posisi administratif, melainkan tanggung jawab moral. Ketika masih ditemukan kasus kekurangan gizi dan stunting, persoalan tersebut tidak bisa sekadar dibaca sebagai data statistik, melainkan sebagai peringatan bahwa masih ada anak-anak yang belum mendapatkan hak dasarnya untuk tumbuh sehat.
Demikian pula dalam menghadapi persoalan ekonomi. Kebijakan fiskal dan program pembangunan harus bermuara pada kesejahteraan nyata masyarakat, terutama mereka yang paling rentan. Keberhasilan pembangunan seharusnya diukur dari seberapa banyak dapur warga tetap menyala dan seberapa besar rasa aman sosial yang dirasakan masyarakat.
Pendekatan empati dalam kepemimpinan sering kali disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, empati adalah kekuatan untuk melihat persoalan secara utuh, mendengar suara yang selama ini kurang terdengar, serta merumuskan kebijakan yang lebih responsif dan berkeadilan. Sensitivitas sosial menjadi elemen penting dalam membangun daerah yang inklusif.
Ke depan, Kampar diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai daerah yang kuat secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara moral dan sosial. Nilai etika, adab, dan kepedulian harus menjadi fondasi pembangunan. Sebagai daerah yang dikenal dengan nilai-nilai religius, kesalehan individual perlu diiringi dengan kesalehan sosial—saling membantu, menjaga, dan memperkuat satu sama lain.
Peran perempuan, khususnya para Bundo Kanduong, memiliki posisi strategis dalam menjaga nilai tersebut. Dari lingkungan keluarga, karakter generasi masa depan Kampar dibentuk. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak individu yang cerdas, tetapi juga manusia yang berintegritas.
Momentum ulang tahun ke-76 ini menjadi pengingat bahwa pembangunan adalah kerja bersama. Setiap capaian merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, sementara setiap kekurangan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan.
Mencintai Kampar berarti bekerja dengan sungguh-sungguh, menjunjung nilai kemanusiaan, serta menjaga niat dan hati tetap bersih dalam setiap langkah pembangunan.
Komentar Anda :